Kognitif  berasal dari bahasa latin pada abad pertengahan yaitu cognitivus atau cognit yang artinya dikenal. Sedangkan Distorsi bermakna tindakan memutar atau  mengubah sesuatu dari keadaan sebenarnya.

 Distorsi Kognitif adalah kesalahan logika dalam berfikir, cenderung berfikir yang berlebihan serta tidak rasional. Individu yang mengalami ini fikirannya akan menganggap apa yang dia lakukan adalah benar namun pada kenyataannya itu adalah suatu hal yang tidak rasional dan tidak akurat. Jika dibiarkan, kesalahan ini akan menjadi kebiasaan yang akan mempengaruhi kondisi emosi kita, serta termanifestasi dalam perilaku.

Menurut Aaron T. Beck, distorsi kognitif merupakan pandangan negatif tentang realitas, terkadang disebut skema negatif yang menjadi faktor dalam gejala disfungsi emosional dan kesejahteraan subjektif yang kurang baik.

Jenis-Jenis Distorsi Kognitif

  • All or Nothing Thinking

Pola pikir kognitif ini selalu melihat segala sesuatu secara absolut. Hanya ada hitam dan putih, tidak ada ruang abu-abu diantaranya, inilah yang membuat sesorang bisa sulit keluar dari gangguan psikologis yang dialaminya.

  • Overgeneralization.

Sangat sering muncul kata “SELALU” atau “TIDAK PERNAH”. Orang yang memiliki gejala distorsi kognitif akan selalu menggeneralisasi apa yang terjadi setelah suatu kejadian atau rentan kasus tertentu. Seakan-akan tidak ada ruang untuk hal lain karena telah ada generalisasi.

  • Mental Filtering

Cenderung fokus pada satu kejadian secara ekslusif dan melupakan hal lain. Contoh seorang remaja yang merasa hanya luwesbergaul ketika mengonsumsi obat terlarang. Jika tidak, ia kan merasa rendah diri dan tidak disukai oleh orang sekitarnya.

  • Magnification/catastrophizing.

Kecenderungan membesar-besarkan hal yang dirasa sebagai hal negatif atau sumber masalah. Disaat yang sama juga akan mengkerdilkan manfaat yang ada dari hal tersebut. Pola pikir semacam ini rentan membuat seseorang yang kecanduan kembali terjebak dalam pola yang sama.

  • Jumping to Conclusions
  • Mind reading, menyimpulkan reaksi seseorang sudah menggambarkan pemikiran mereka.
  • Fortune telling, memprediksi apa yang akan terjadi. Hal ini biasanya dilakukan untuk untuk menghindari tantangan
  • Labelling

Individu ini kerap kali memberikan label tentang diri sendiri atau orang lain sebagai sifatnya. Jadi, bukan hanya melihat sebagai individu dengan berbagai sifat atau karakter. Pemberian label sepihak, seperti menyimpulkan orang yang tidak tersenyum sebagai orang yang sombong.

  • “Should” Statements

Sebenarnya ini merupakan cara seseorang berbicara pada dirinya sendiri. Sayangnya, hal ini menjadi distorsi karena cenderung menekankan hal-hal yang seharusnya dilakukan. Akibatnya, akan meremehkaniide dan pikiran diri sendiri, hingga rentan terus menerus merasa gagal.

  • Emotional Reasoning

Jenis penalaran ini mengansumsikan bahwa emosi negatif yang dialami pasti merupakan cerminan realitas yang akurat. Jika mereka merasa mengalami perasaan bersalah, misalnya penalaran emosional akan mengarahkannya untuk menyimpulkan bahwa mereka adalah orang jahat.

  • Disqualifying the Positive

Pemikiran ini berarti mengabaikan atau tidak memberikan validasi pada hal-hal baik yang terjadi pada dirinya sendiri. Hal bisa berdampak pada relasi dengan orang lain di sekitar.

  • Personalization and Blame

Cenderung menyalahkan diri sendiri atau orang lain, meskipun apa yang terjadi melibatkan banyak faktor lain dan diluar kendali. Hal ini bisa terjadi kemungkinan pengaruh dari apa yang diterima sejak kecil atau pola asuh. Misal, terlalu sering mendengar orang tua menyalahkan dirinya saat kecil, akan membentuk dirinya sebagai sosok yang tidak percaya diri dan melarikan diri ke hal negatif

            Merasa terjebak dalam kondisi distorsi kognitif atau pemikiran yang salah? Menyadari ada yang salah saja sudah merupan langkah awal tepat, sebab pola piikir ini kerap kali merupakan kebiasaan yang bias dan berdampak negatif. Mungkin saja orang tidak sadar apa yang dilakukannya itu salah.

Apalagi jenis distorsi kognitif yang sangat beragam. Jika ingin mengatasi dan menubahnya, terapi perilaku kognitif bisa jadi cara efektif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Awesome Work

You May Also Like