Davied Vierronieca

Toxic Positivity yaitu suatu kondisi seseorang selalu menuntut dirinya dan orang lain untuk tetap berfikir serta bersikap positif, menolak segala bentuk emosi negatif. Memang baik untuk kita selalu berfikir dan bersikap positif untuk menguatkan diri sendiri atau sebagai rasa simpati terhadap masalah yang sedang dialami orang lain. tetapi jika dibarengi dengan menghindari emosi negatif justru akan berdampak buruk bagi kesehatan mental seseorang.

Orang yang terjebak dalam kodisi ini cenderung akan selalu berusaha menghindari perasaan emosi negatif yang ada pada dirinya contoh seperti perasaan sedih, marah atau kecewa dari berbagai hal yang terjadi. Padahal perasaan ini sangat penting untuk dirasakan dan di ekpresikan selagi tidak merugikan orang lain.

Apa aja sih ciri-ciri orang yang sedang berada dalam kondisi Toxic Positivity:

  1. Sering menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya sedang dirasakan
  1. Selalu berusaha untuk menghindari atau membiarkan masalah
  2. Tiba-tiba merasa bersalah ketika bercerita atau mengeluhkan emosi negatifnya
  3. Berusaha memberikan semangat kepada orang lain, tapi disertai dengan penyataan yang seolah meremehkan, misalnya mengucapkan kalimat “jangan nyerah, masa gitu doang ngga bisa”
  4. Sering mengucapkan kalimat yang membandingkan diri dengan orang lain, contohnya, “ harusnya kamu bersyukur mending cuma kaya gini, diluar sana masih banyak orang yang lebih menderita dari kamu ”
  5. Mengucapkan kalimat yang menyalahkan orang yang  sedang tertimpa masalah, misalnya “Coba deh lihat sisi positifnya. Lagi pula, ini salahmu juga, kan?” “kamu si kurang ibadahnya,jadi ya begini kan”

Cara mengatasi Toxic Positivity

  1. Belajar untuk Mengenal Emosi Negatif dan Positif

Emosi positif maupun negatif bukanlah hal yang harus disimpan atau disangkal setiap manusia mempuyai perasaan dan emosi negatif-positif itu adalah hal yang normal terjadi, kita boleh meluapkan melalui bercerita ke orang yang kita pecaya yang tidak akan pernah menghakimi ataupun menyalahkan kita, jika tidak terbiasa bercerita kepada orang lain bisa meluapkan melalui tulisan. Tulis apapun yang membuat perasaan tidak baik-baik aja.

2. Berusaha Untuk Memahami bukan Menghakimi

Perasaan negatif yang timbul pada manusia biasanya disebabkan oleh berbagai hal mulai dari karena stres pekerjaan, masalah keluarga, ekonomi, atau gangguan mental tertentu seperti mood. Maka dari itu kita harus bisa memahami diri sendiri, kita tahu bagaimana cara menenangkan dan melepaskan perasaan negatif, dan yang paling penting harus kita ingat adalah “its okey to not be okay” kamu harus menyadari bahwa kita semua boleh merasakan perasaan tidak baik-baik saja, kita tidak harus selalu terlihat bahagia karena ada kalanya kita juga merasakan sedih bahkan kecewa.

Jika hal ini terjadi kepada teman biarkan dia meluapkan emosi yang sedang ia rasakan tanpa meghakimi belajarlah berempati kita dengarkan karena terkadang sebagian orang ada yang hanya butuh didengarkan.

3. Hindari Membanding-bandingkan Masalah

Setiap orang mempunyai masalah dan kekuatan masing-masing, kita tidak bisa menyamaratakan kondisi kita dengan orang lain. Bisa saja yang menurut mu itu masalah mudah tapi bagi orang lain justru sangat berat. Jangan sampai kita berkata “kamu mah mending, coba aku” stop-stop.

Seandainya kita tidak bisa memahami kondisi seseorang lebih baik diam ya.

4. Mengurangi Penggunaan Media Sosial

Kenapa harus mengurangi penggunaan media sosial? Karena banyak akun-akun dimedia sosial yang mengajarkan kita untuk terlihat sempurna, terlihat untuk baik-baik saja. Bahkan banyak akun yang memprovokasi emosi, maka kita harus bisa memilih akun-akun yang baik untuk kita ikuti. dari pada menghabiskan waktu untuk scroll media sosial lebih baik membuat diri lebih produktif seperti mengerjakan pekerjaan yang tertunda, melakukan aktivitas yang membuat kita senang atau kita juga bisa ambil jeda untung bersantai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Awesome Work

You May Also Like